November 11, 2015

Perbedaan budaya... Perbedaan pola pikir...

Tidak terasa sudah 2 bulan lamanya saya merasakan belajar di negeri orang. Pepatah "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui" mungkin menggambarkan apa yang saya alami di sini. Selain belajar hidup mandiri di negeri orang, saya pun menantang kemampuan diri sendiri serta belajar untuk menjadi open-minded terhadap hal-hal baru. Saya akan jelaskan secara kronologisnya kenapa bisa menyimpulkan seperti itu.

Pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini saya seperti anak hilang, tidak tau mau kemana dan harus apa. Untungnya saya ada kenalan senior-senior yang menjelaskan banyak hal. Saya pun langsung menuju ISS untuk mengurus administrasi kemahasiswaan dan housing. Saya pun ditempatkan di dorm yang memang saya pilih, tidak jauh dari ISS. Saya pun harus membawa dua koper saya sendirian ke sana dan sempet nyasar (ini emang saya yang ga bisa baca map kayaknya haha). Mungkin awal-awal masih kaget, tapi sebetulnya secara umum cara hidup saya di sini tidak jauh berbeda dengan ketika saya dulu kuliah di Bandung. Perbedaan yang paling signifikan adalah saya jadi berusaha untuk sering memasak dan jadi lebih hemat dalam mengeluarkan uang. Aneh sebetulnya kenapa di sini bisa jadi begitu wkwk, mungkin salah satunya karena pengaruh uang bulanan yang tidak mewah.

Hal lain yang saya rasakan yaitu bagaimana berusaha untuk mengenal orang lain yang berbeda negara, suku, agama, dll. ISS sendiri singkatan dari International Institute of Social Studies, yang mana isinya mahasiswa internasional dari seluruh penjuru dunia. Tahun ini kurang lebih ada 50 negara yang berkuliah di ISS. Bayangkan kami semua dipersatukan di ISS sehingga seolah-olah menjadi seperti "mini United Nation". Menurut saya ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki ISS, dimana orang-orang dari tempat yang berbeda, pengalaman yang berbeda, pendidikan yang berbeda berkumpul menjadi satu, membuat pandangan kita menjadi lebih luas. Belajar di ISS bukan hanya belajar materi dari dosen tetapi juga belajar dari pengalaman teman-teman kita yang mungkin tidak akan pernah kita temui jika berkuliah di tempat lain.

Seminggu awal pengenalan kampus masih cukup menyenangkan dan lumayan untuk jadi ajang beradaptasi dengan kehidupan baru. Tapi setelah perkuliahan dimulai, saya pun kaget dengan budaya "required readings" sebelum masuk kelas. Jadi kami (mahasiswa) harus membaca beberapa bacaan yang diwajibkan dan disarankan sebelum memasuki kelas. Biasanya untuk 1 mata kuliah ada 2-3 bacaan wajib dan beberapa bacaan tambahan yang disarankan. Ini sebuah tantangan luar biasa bagi saya karena baca tulisan berat bukan hobi saya dan apalagi jika bacaannya dalam bahasa inggris. Kuliah yang diambil ada 3 foundation course (masing-masing 3 sks) dan 1 general course (8 sks). Kuliah setiap hari kira-kira ada 2-3 mata kuliah yang artinya minimal harus baca 4 bacaan, dengan 1 bacaan terdiri dari kurang lebih 20 halaman. Jadi bacaan yang harus dibaca setiap hari kurang lebih ada 80 halaman. Pernah saya beberapa kali mencoba tidak membaca sebelum kelas dan hasilnya saya tidak menangkap materinya dengan baik, alhasil nambah PR buat belajar lagi. Intinya penting buat membaca ini bukan sekedar formalitas sebelum masuk. Tapi sebenernya balik lagi ke diri masing-masing, ga ada yang memaksakan harus membaca kok hehehe

Hal lain yang menurut saya penting untuk disoroti yaitu mengenai "plagiarisme". ISS dan mungkin kultur akademik di Eropa ini sangat menekankan pentingnya orisinalitas dan menghargai hasil karya orang lain. Bahkan di sini memiliki penilaian tersendiri untuk masalah orisinalitas melalui sebuah aplikasi bernama "turn it in". Di sana bisa terlihat berapa persen kita melakukan plagiarisme atas karya orang lain. Mungkin kalau disadari dulu ketika saya kuliah saya banyak melakukan plagiarisme tanpa saya sadari dan memang karena pendidikan tentang hal ini masih kurang di Indonesia.  

Hal terakhir yaitu mengenai exam (alias ujian) yang baru saya alami 2 minggu lalu. Penilaian ujian di ISS untuk foundation course yang saya ambil yaitu: Politics (100% exam), Sociology (100% exam), dan Economy (15% group exam dan 85% individual exam). Bentuk ujiannya kurang lebih sama seperti dulu waktu saya kuliah di ITB untuk ujian tertulis, tetapi lebih menenkankan pemahaman konsep dengan menjelaskan argumen beserta contoh penerapannya. Yang saya rasakan terhadap ujian ini yaitu menguras pemikiran dan tenaga, karena kuliah pengantar yang biasanya 6 bulan sampai 1 tahun lamanya ditekan menjadi 2,5 bulan dengan materi yang kurang lebih sama. Dan ujian melibatkan seluruh materi itu yang intinya jika mau mencoba cara SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak akan berhasil haha

Ya begitulah tantangan yang saya rasakan dalam kurang lebih 2 bulan lamanya. Mungkin kedepannya akan lebih banyak tantangan yang lebih berat dan lebih banyak hal menarik juga yang ditemui. Pokoknya yang penting tetap semangat belajar dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun :)