August 11, 2015

Suara Masyarakat: Potensi Pembangunan Inklusif

Belum lama ini sekitar hampir 900 orang warga belanda mengajukan tuntutan resmi ke pengadilan di Den Haag. Warga Belanda menuntut pemerintahnya sendiri karena dinilai sejauh ini belum berhasil melakukan langkah-langkah yang melindungi masyarakatnya dari kerusakan akibat fenomena perubahan iklim. Berdasarkan aturan The Intergovernental Panel of Climate Change (IPCC), negara-negara berkembang (Belanda termasuk penyumbang emisi per kapita terbesar) harus mengurangi emisi karbon dioksida di level 1990, sementara saat ini emisi berada di level 2010. Pengadilan menetapkan agar pemerintah harus mengambil kebijakan demi mengurangi emisi hingga 25% dalam lima tahun ke depan untuk melindungi warganya dari ancaman bencana akibat perubahan iklim. Dalam implementasinya, pemerintah telah setuju menutup tambang batu bara, menambah jumlah penggunaan kincir angin dan energi matahari serta mengurangi tambang gas bumi di belahan utara Belanda. Keberhasilan warga belanda yang menang di pengadilan ini merupakan kasus pertama di dunia. Semangat warga Belanda untuk memperjuangkan kepentingan publik menjadi salah satu pembelajaran yang sangat berharga bagi seluruh masyarakat di dunia. Kesadaran akan persoalan perubahan iklim dan akibatnya pada keberlangsungan kehidupan merupakan salah satu peran penting masyarakat dalam pembangunan. Apabila masyarakat Belanda tidak menyadari pentingnya pengurangan emisi, maka tidak akan ada tuntutan yang dilakukan kepada pemerintah Belanda. Apabila tuntutan tersebut tidak dilakukan, maka pemerintah Belanda tidak akan mengupayakan untuk mengatasi persoalan perubahan iklim yang dampak buruknya justru nanti akan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Oleh karena itu, perlu kita sadari bahwa masyarakat harus paham dengan kebijakan pembangunan di daerahnya untuk dapat mendukung terjadinya pembangunan inklusif.
Pembanguan inklusif secara umum diartikan sebagai kebalikan dari pembangunan eksklusif di mana pembangunan yang terjadi mementingkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Pembangunan inklusif ini menjadi penting karena realita pembangunan nasional yang masih terasa berat sebelah, salah satu contohnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak sepenuhnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat apabila kita telusuri lebih mendalam. Berdasarkan informasi dari Bank Dunia, dalam rentang tahun 1999 hingga 2012 tingkat kemiskinan di Indonesia telah berkurang separuh dari 24 persen menjadi 12 persen, namun koefisien Gini (pengukuran ketimpangan nasional) naik dari 0,32 pada tahun 1999 menjadi 0,41 pada tahun 2012. Pembangunan yang belum merata ini juga terus berlangsung seiring dengan berlakunya kebijakan desentralisasi (otonomi daerah) di Indonesia sejak tahun 1999 yang membuat setiap daerah mempunyai kewenangan penuh untuk membangun daerahnya sendiri. Arah pembangunan pun yang tadinya menggunakan pendekatan top-down menjadi pendekatan bottom-up. Bottom-up disini berarti pembangunan yang lebih memperhatikan kebutuhan wilayah dari lingkup yang lebih kecil (skala lokal) lalu disesuaikan ke lingkup yang lebih besar (skala nasional). Kebijakan otonomi daerah pada dasarnya dimaksudkan agar pemerintah lebih dekat kepada masyarakat dalam merumuskan kebijakan serta agar pembiayaan kepentingan publik dapat lebih efektif dan efisien. Namun sayangnya kebijakan ini masih dirasa belum maksimal karena paradigma kita yang masih sulit untuk keluar dari bentuk pemerintahan sentralisasi, sehingga pada akhirnya otonomi ini justru memunculkan raja-raja kecil pada tingkat daerah. Masyarakat yang belum begitu paham akan tujuan desentralisasi yang harusnya membawa kesejahteraan bagi mereka pada akhirnya menjadi korban ketidakadilan.
Peran masyarakat dalam pembangunan inklusif
Masyarakat pada dasarnya merupakan salah satu aktor penting dalam pembangunan, dimana masyarakat memiliki hak untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Masyarakat perlu aktif berpartisipasi karena masyarakat seharusnya mengetahui secara pasti kemana arah pembangunan negaranya. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat, arah pembangunan akan menjadi lebih memperhatikan kepentingan publik. Selain itu, partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan juga merupakan proses serta wujud partisipasi politik masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu peran serta masyarakat dalam merumuskan perencanaan daerah yaitu melalui mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Musrenbang merupakan sebuah mekanisme yang menjadi wadah dalam mempertemukan apa yang dibutuhkan masyarakat dan bagaimana Pemerintah merespon kebutuhan masyarakat. Namun, sejauh ini Musrenbang nyatanya seringkali hanya menjadi “ritual” tahunan, atau sekadar kegiatan formalitas yang harus dilakukan pemerintah. Keterlibatan masyarakat masih sangat kurang dan terkadang didominasi wajah yang sama dari tahun ke tahun. Akibatnya, perencanaan program  tidak mendapat gagasan variatif dari pelaksanaan musrenbang tersebut.  Sehingga perlu disadari bahwa tingkat kesadaran hukum dan kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi dalam proses perumusan perencanaan pembangunan akan mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. The Oregon Citizen Involvement Advisory Commitee (CIAC) mendefinisikan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan sebagai berikut:
Citizen involvement means participation in planning by people who are not professional planners or government officials. It is a process through which everyday people help create local comprehensive plans and land use regulations, and use them to answer day-to-day questions about land use. It is citizens participating in the planning and decision-making which affect their community.
Pentingnya partisipasi publik disampaikan pula dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab 1 pasal 1 yang berbunyi, “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar” serta pasal 28C yang berbunyi, “setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara”. Sebagai pihak yang paling terkena akibat dari pembangunan dan pemanfaatan ruang, masyarakat sudah seharusnya terlibat dalam seluruh prosesnya agar tidak terkena berbagai tekanan dan paksaan pembangunan yang telah dilegitimasi oleh birokrasi yang seringkali tidak dipahami. Upaya untuk mendukung pelibatan masyarakat dalam pembangunan salah satunya telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 68 tahun 2010 yang menjabarkan bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang. Masyarakat dapat memberikan masukan dalam proses penyusunan rencana tata ruang, memberikan masukan kebijakan pemanfaatan ruang dan arahan pengendalian pemanfaatan ruang (seperti arahan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi, serta dapat memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Bentuk partisipasi masyarakat dalam penataan ruang tersebut dapat disampaikan secara langsung kepada kepala daerah antara lain melalui forum pertemuan, konsultasi, komunikasi dan kerja sama atau secara tertulis melalui surat, SMS, laman (website), email, dan wadah pengaduan.
Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang sudah mulai mendorong partisipasi aktif warganya dalam pembangunan daerah. Pada Bulan Maret lalu Walikota Bandung, Ridwan Kamil meluncurkan Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan (PIPPK). Program percepatan pembangunan ini dirancang melibatkan langsung partisipasi masyarakat melalui lembaga kemasyarakatan Rukun Warga (RW), Karang Taruna, Tim Penggerak PKK, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Tujuan pelaksanaan PIPPK sendiri yaitu, untuk mewujudkan sinergitas kinerja aparatur kewilayahan dengan lembaga kemasyarakatan kelurahan dalam melaksanakan PIPPK berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Selain itu, Pemerintah Kota Bandung juga mendorong warganya untuk aktif mengawasi penggunaan anggaran serta meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengawasi pembangunan melalui wadah pengaduan online yang tersedia seperti website resmi Pemerintah Kota Bandung ataupun melalui twitter yang dikelola sendiri oleh Walikota. Program peningkatan partisipasi tersebut pun disambut baik oleh warga Bandung, sehingga jadi lebih peduli dengan pembangunan daerahnya. Respon baik melalui partisipasi aktif pun juga ditunjukkan dengan banyaknya warga yang ikut serta dalam kerja bakti yang diadakan Pemerintah serta banyaknya organisasi-organisasi lokal yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung. Meskipun masih terdapat pro dan kontra terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Ridwan Kamil, namun usaha beliau untuk mendorong pembangunan yang menghargai pandangan warganya demi tercapainya kota yang ideal bagi warganya sangat perlu diapresiasi. Upaya tersebut merupakan langkah awal menuju pembangunan inklusif, dimana pentingnya menimbulkan kesadaran akan isu-isu pembangunan dan meningkatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan perencanaan pembangunan serta memantau keberjalanannya.


Untuk kamu yang "galau masa depan"

Pernahkah kamu merasa bingung setelah kuliah mau apa?
Pernahkah kamu merasa hidupmu tidak jelas arahnya mau dibawa kemana?
Pernahkah kamu membandingkan dirimu dengan teman-temanmu yang sukses?
Pernahkah kamu mempertanyakan kemampuan dirimu sendiri?

Kalau iya, selamat berarti kamu berada dalam fase galau masa depan. Kenapa selamat bukannya simpati? Karena dengan galau berarti kamu memikirkan masa depanmu bukan hanya "go with the flow" dengan hidup ini. Galau masa depan pada umumnya dirasakan oleh setiap mahasiswa yang mendekati tingkat akhir, sedang mengerjakan Tugas Akhir/Skripsi, atau yang baru saja lulus a.k.a fresh graduate. Namun terlepas dari galau masa depan merupakan hal yang baik, saya ingin menjelaskan bahwa terdapat banyak orang yang salah "galau". Salah "galau" yang dimaksud yaitu misalnya seperti perasaan dimana hidup ini kosong dan hampa ketika baru saja lulus, waswas ingin segera mendapat pekerjaan yang paling prestis seantero Indonesia bahkan kalau bisa di luar negeri, tidak mau dianggap jelek oleh keluarga atau tetangga atas pekerjaan yang diambil, dsb. Perasaan-perasaan tersebut mungkin sering dirasakan banyak orang, tetapi pada dasarnya merupakan hal yang tidak baik. Orang-orang tersebut pada dasarnya masih belum mempunyai tujuan yang jelas untuk masa depannya. 

Banyak orang yang ketika lulus dan kemudian bekerja mereka tidak puas dengan keadaan dirinya dan akhirnya menyadari bahwa ini bukanlah jalan yang tepat lalu kemudian baru memikirkan langkah berikutnya. Jangan sampai kamu telat menyadari hal tersebut sehingga beberapa tahun hidupmu tidak optimal untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Oleh karena itu pupuklah perasaan galau masa depan selagi masih di bangku perkuliahan, ketika baru saja lulus, atau baru saja mulai bekerja. Wajar kita baru memikirkan masa depan ketika sudah bekerja, karena kita belum terbayang realita kehidupan seperti apa. Namun jangan sampai kamu mengambil langkah yang berbeda 180 derajat dengan tujuanmu (contoh ekstrim misalnya kamu ingin menolong orang banyak tapi ternyata kamu justru menyengsarakan orang banyak).

Untuk membantu kamu mendefinisikan galau masa depan yang saya maksud coba pertanyakan beberapa hal ini ke dalam diri sendiri dan coba jawab. Jika kamu bisa menjawab seluruh pertanyaan dengan baik berarti rencana masa depanmu sudah jelas, namun jika belum silahkan kamu merasa "galau" dengan memikirkan jawaban yang menurutmu sesuai dengan dirimu. Jawaban pada dasarnya tidak ada yang tepat dan mungkin saja jawaban tersebut bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu karena kamu telah menemukan hal-hal baru dalam hidupmu.
1. Apa tujuan hidup saya? Jabarkan alasannya
2. Bagaimana saya bisa mencapai tujuan saya? Sebutkan step-step nya
3. Apa saja pekerjaan yang cocok untuk mencapai tujuan saya? (coba buat beberapa pilihan)
4. Apa saya sekarang sudah berada di jalur yang benar untuk mencapai tujuan? jabarkan alasannya
5. Dalam 5/10/15/20 tahun yang akan datang saya akan jadi apa dan telah melakukan apa?

Banyak-banyak merenunglah, berpikirlah, membacalah, berdiskusilah selagi kamu masih muda dan bersemangat. Bukankah hidup ini ada untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Jadi sebisa mungkin perjelas rencana hidupmu mulai dari sekarang sehingga manfaat yang akan kamu dapatkan menjadi maksimal pada akhirnya.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman saya yang masih bingung akan masa depannya (termasuk saya). Saya yakin kita semua hidup di dunia ini dengan alasan dan misi dari Allah SWT. Coba gali potensi kita dengan baik, insya Allah akan ditunjukkan jalan yang lurus untuk mencapai tujuan-tujuan kita untuk memberikan kebaikan di dunia yang fana :)


Salam Hangat,
Tessa Talitha

August 10, 2015

Langkah-Langkah Menggapai Mimpi Studi di Belanda

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Master/PhD Degree) sudah menjadi salah satu pilihan ketika kita lulus kuliah. Persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan beasiswa penuh pun menjadi tantangan ketika kita memilih untuk melanjutkan kuliah ke Luar Negeri. Semakin banyak lembaga yang menyediakan pendanaan untuk beasiswa, namun semakin banyak pula orang yang berbondong-bondong mendaftar. Mulai dari beasiswa yang berasal dari Indonesia seperti LPDP, DIKTI, Bappenas, Kominfo, dll hingga beasiswa yang berasal dari luar negeri seperti Chevening, Fullbright, Australia Scholarship Awards, World Bank, dll. Untuk sekedar memberikan gambaran, saya akan menceritakan tahap-tahap untuk menggapai studi di Luar Negeri, khususnya yaitu mengenai studi di Belanda.
Belanda merupakan salah satu negara yang paling banyak diminati oleh orang Indonesia untuk melanjutkan kuliah. Letaknya yang berada di European Union dan menawarkan banyak sekali studi dengan bahasa Inggris menjadi hal yang sangat menarik terutama bagi yang mengincar traveling ketika kuliah. Bukan hanya itu, Belanda juga menawarkan banyak program dan universitas yang sangat bagus dengan pendidikan standar internasional. Beberapa universitasnya masuk ke dalam 100 besar universitas terbaik (lihat http://www.topuniversities.com/where-to-study/region/europe/top-universities-europe dan http://cwur.org/2015/netherlands.html) dan Belanda pun memiliki reputasi yang sangat baik terkait dengan risetnya.
Belanda merupakan negara yang paling banyak menawarkan beasiswa. Setiap beasiswa memiliki karakteristik dan syarat yang berbeda-beda tergantung dengan apa yang ingin dicapai oleh lembaga tersebut. Berikut beberapa informasi beasiswa yang dapat digunakan untuk studi di Belanda bagi masyarakat umum (tidak termasuk beasiswa PNS).
1. StuNed
5. LPDP

Studi di Belanda dengan Beasiswa NFP (berdasarkan pengalaman pribadi)
NFP merupakan beasiswa yang berasal dari Nuffic Belanda, yang memiliki misi untuk mengembangkan kapasitas organisasi di NFP countries. Beasiswa ini hanya berlaku untuk lembaga-lembaga yang dianggap tidak mampu untuk membiayai pegawainya untuk berkuliah (misalnya tidak untuk orang yang bekerja di lembaga internasional, lebih detailnya bisa dibaca dalam website). Beasiswa ini juga hanya melalui penilaian dokumen saja jadi pastikan anda mengisi aplikasi anda dengan baik. Persaingan beasiswa ini cukup ketat karena berlaku untuk 51 negara termasuk Indonesia. Namun hal tersebut jangan dijadikan hambatan, karena apabila kita serius untuk mendapatkan beasiswa tersebut pasti ada jalan. Berikut merupakan tahapan penting yang perlu dipahami untuk studi di Belanda melalui beasiswa NFP:
1.    Mempersiapkan persyaratan untuk mendaftar kuliah
Untuk persyaratan sendiri biasanya berbeda-beda untuk setiap universitas dan program yang ditawarkan (bisa dilihat di https://www.studyfinder.nl/ atau di website universitas masing-masing). Walaupun berbeda, tetapi ada beberapa persyaratan yang perlu dipersiapkan untuk master degree.
·          Ijazah dan transkrip nilai yang telah ditranslate
·          Skor bahasa Inggris IELTS (pada umumnya minimal 6 atau 6,5) atau TOEFL iBT (pada umumnya minimum 80 atau 90)
·          Motivation statement
·          Recommendation letter (biasanya 2 buah)
2.    Mendaftar ke universitas pilihan
Untuk periode pendaftaran tidak sama untuk setiap universitas, namun pada umumnya untuk studi di Belanda dibuka sepanjang tahun (untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada website universitas masing-masing). Untuk prosedurnya biasanya kurang lebih sama, hanya mengisi form secara online yang telah disediakan oleh pihak universitas serta meng-upload persyaratan secara online. Setelah mendaftar, yang selanjutnya dilakukan yaitu menunggu konfirmasi oleh pihak universitas apakah anda diterima atau tidak. Biasanya kurang lebih 1 bulan lamanya tergantung universitas tempat anda mendaftar.
3.    Mendaftar beasiswa NFP
Selagi anda mendaftar ke universitas yang anda inginkan, anda bisa mulai mempersiapkan persyaratan untuk mendapatkan beasiswa. Pada umumnya persyaratan utama yang diminta kurang lebih sama dengan mendaftar kuliah, Namun untuk beasiswa NFP memberlakukan syarat dimana anda harus diterima terlebih dahulu di universitas (mendapatkan Letter of Acceptance). Pendaftaran beasiswa NFP biasanya hanya dibuka selama kurang lebih 1 bulan (harus dicek pada website universitas masing-masing karena deadline-nya kadang suka berbeda). Jadi agar persiapan aman, maka anda harus sudah diterima oleh universitas sebelum pendaftaran NFP dibuka (misalnya pendaftaran dibuka bulan april, maka anda sebaiknya maksimal mendaftar ke universitas pilihan anda pada bulan februari sehingga bulan maret sudah ada hasilnya).
Ketentuan beasiswa NFP tahun 2015 berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana persyaratan pengalaman kerja minimal sudah tidak ada (namun bukan berarti tidak penting). Yang penting untuk dipersiapkan dalam mendaftar  beasiswa NFP yaitu:
-          Employer statement
Employer statement merupakan syarat penting yang perlu diperhatikan karena beasiswa ini mengincar pengembangan organisasi. Sehingga statement dari organisasi tempat kita bernaung sangat penting untuk dapat meyakinkan pihak pemberi beasiswa. Usahakan agar tujuan anda untuk kuliah dapat memberikan kontribusi nyata pada organisasi anda.
-          Motivation
Motivation ini bukan berbentuk surat pada umumnya tetapi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pihak pemberi beasiswa NFP. Pertanyaannya yaitu
1. What is the issue or problem you want to address in your country? 
2. How will this course enable you to address this issue?
3. How will you address this issue with your position within your organisation?
Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan program yang kalian akan ambil di universitas pilihan anda karena universitas juga akan menilai form anda. Proses penilaian beasiswa ini terbagi menjadi dua tahapan besar yaitu penilaian oleh pihak universitas dan penilaian oleh kementrian luar negeri belanda. Untuk lebih lengkapnya mengenai prosedur dapat dibaca di sini dan mengenai penilaian dapat dibaca di sini.
4.    Menunggu hasil dengan terus berdoa
Setelah seluruh proses pendaftaran selesai, hal yang kemudian dilakukan hanyalah menunggu kurang lebih 1-2 bulan lamanya dari deadline pendaftaran beasiswa NFP. Perlu diingat bahwa pengumuman hasil akan diinformasikan oleh pihak universitas masing-masing dan tidak serentak. Jadi anda tidak perlu panik ketika ada teman yang berbeda universitas dengan anda mendapat informasi lebih dulu dibanding anda. Namun pemberian informasi ini hanya untuk yang diterima saja, jadi ketika sudah hampir 3 bulan anda belum juga mendapatkan kabar, maka anda mungkin tidak diterima. Namun kembali lagi ke penjelasan awal bahwa sangat banyak beasiswa yang ditawarkan untuk studi di Belanda, cobalah mendaftar yang sesuai dengan kriteria anda dan persiapkan dengan baik. Kalau anda terus berusaha pasti akan ada jalan di kemudian hari.

Selamat berjuang untuk mengejar studi di Belanda!


Tessa Talitha
ISS, Erasmus University Rotterdam (2015-2016)


August 1, 2015

Pembangunan Kota Berkelanjutan dan Aktor-Aktor yang Terlibat di Dalamnya

Tulisan ini merupakan tulisan pada tahun 2013 yang termasuk dalam The Planners HMP PL ITB. Mungkin masih banyak kekurangan karena saya saat itu masih di bangku kuliah, tetapi saya ingin share apa yang dulu pernah saya buat karena mungkin dapat menjadi inputan di kemudian hari.


Pembangunan Kota Berkelanjutan dan Aktor-Aktor yang Terlibat di Dalamnya
Oleh:
Tessa Talitha (15410072)
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
Institut Teknologi Bandung

Pembangunan kota yang berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Keseimbangan ketiga aspek tersebut diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pembangunan kota diperlukan perhatian khusus tidak hanya dari sisi perencanaan fisik kota namun juga dari sisi pengelolaan pembangunan untuk dapat mencapai tujuan kota yang berkelanjutan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam pengelolaan suatu daerah diperlukan pihak-pihak yang merencanakan kota agar tetap pada jalur dalam mencapai tujuan pembangunan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu bentuk kelembagaan dan lembaga formal yang mengatur penyelengaraan pembangunan kota berkelanjutan untuk menjamin terpenuhinya standar tingkat pelayanan publik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terdapat beberapa definisi mengenai kelembagaan dan apa yang membedakannya dengan lembaga atau organisasi yang dijabarkan oleh (Oetomo,2008) dalam buku Metropolitan di Indonesia, Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang Bab 7 Hukum dan Kelembagaan sebagai berikut:
·         The humanly devised constraints that shape human interaction... They structure incentives in human exchange, whether poitical, social or economic... Institutions reduce uncertainty by providing a structure to everyday life... Institutions include any formof constraint that human beings devise to shape interactions” (Bainbridge, et.al, 2000:6)
·         Institutions are the constraints that human beings impose on human interaction. They consist of formal rules (constitutions, statute law, comon law, and regulations) and informal constraints (conventions, norms, and self-enforced codes of conduct) and their enforcement characteristic” (North, 1998:11)
·         “Wherever we encounter substantial, continued, organized activity with means structures to pursue shared goals, we deal with behavior that at some stage of consequence can be  called institutions.” (Hurst, 1977:48)
Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian kelembagaan yaitu  suatu unsur formal beserta “rule of the game” atau seperangkat aturan yang ada di dalamnya yang dapat mempengaruhi pengelolaan sumber daya dalam mencapai tujuan tertentu. Konsepsi kelembagaan tersebut beserta faktor-faktor penentunya dapat  dilihat pada gambar 1. Gambar tersebut secara tidak langsung menjelaskan bahwa kelembagaan bersifat dinamis, bergantung pada berbagai aspek di lingkungannya secara spesifik. Kompleksitas dan kerumitan sistem kelembagaan yang dibentuk akan ditentukan oleh kondisi dan situasi lingkungan manusia, situasi lingkungan alam dan kondisi ketersediaan sumber daya yang terdapat di daerah tersebut (Oetomo dalam Metropolitan di Indonesia, Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang Bab 7 Hukum dan Kelembagaan, 2008). Oleh karena itu, dalam membangun kota yang berkelanjutan kita perlu mengetahui karakteristik kota tersebut beserta sistem kelembagaan yang ada di dalamnya.

Gambar 1. Lingkup Kelembagaan

Apabila dilihat dari kacamata sosial, pengembangan perkotaan tentunya harus dapat meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat. Persoalan kemiskinan merupakan permasalahan kompleks yang selalu ditemui pada kawasan perkotaan dan hingga saat ini belum dapat terselesaikan. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan perencanaan tata ruang secara fisik saja namun diperlukan perencanaan aspek non-fisik seperti kebijakan, politik, budaya, norma, dan sebagainya yang berpengaruh terhadap kualitas kehidupan masyarakat. Pada dasarnya, terdapat tiga aktor yang memilki peran dalam pembangunan kota keberlanjutan berdasarkan konsep Good Governance atau tata pemerintahan yang baik yaitu pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat. Pemerintah memliki fungsi sebagai pengatur sistem kelembagaan serta sebagai pengambil keputusan. Pihak swasta memiliki peran untuk meningkatkan kualitas perekonomian daerah sesuai dengan aturan yang berlaku. Sedangkan masyarakat sebagai obyek yang terlibat dalam pelaksanaan pemerintahan khususnya yang berkaitan dengan pelayanan publik. Para aktor tersebut harus memiliki hubungan yang saling mendukung untuk dapat mencapai pembangunan berkelanjutan.
Dalam mencapai pembangunan kota yang berkelanjutan diperlukan kesadaran para aktor terkait dengan perannya masing-masing sehingga dapat saling mendukung secara sinergis dalam melakukan pembangunan. Sehingga, diperlukan suatu mekanisme yang tepat untuk dapat melibatkan seluruh pihak dalam seluruh proses pembangunan kota, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan pembangunan. Partisipasi para aktor diperlukan karena pada dasarnya pemerintah atau sekelempok orang dengan keahlian tertentu memiliki keterbatasan dalam membuat suatu perencanaan pembangunan. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang paling mengetahui keadaan suatu kota adalah orang-orang yang tinggal di daerah tersebut, sehingga masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam proses perencanaan pembangunan agar tepat sasaran dalam menjawab persoalan yang ada. Pemerintah pun memiliki keterbatasan dalam hal pembiayaan sehingga diperlukan bantuan pihak swasta dalam mendukung pembangunan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan bergantung kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya dan bagaimana “rule of the game” atau seperangkat aturan yang ada diterapkan dalam melakukan pembangunan.

Referensi:
Ditjen Penataan Ruang. 2008. Metropolitan di Indonesia: Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang, Bab 7: Hukum dan Kelembagaan. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Hardjasoemantri, Koesnadi. 2003. Good Governance Dalam Pembangunan Berkelanjutan Di Indonesia. Makalah Untuk Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional ke VIII di Bali, tanggal 15 Juli 2003.
Widiantono, Doni.J. Kota Berkelanjutan: Membangun Kota Tanpa Luka. 2008. Bulletin Penataan Ruang Edisi Mei-Juni.