November 11, 2015

Perbedaan budaya... Perbedaan pola pikir...

Tidak terasa sudah 2 bulan lamanya saya merasakan belajar di negeri orang. Pepatah "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui" mungkin menggambarkan apa yang saya alami di sini. Selain belajar hidup mandiri di negeri orang, saya pun menantang kemampuan diri sendiri serta belajar untuk menjadi open-minded terhadap hal-hal baru. Saya akan jelaskan secara kronologisnya kenapa bisa menyimpulkan seperti itu.

Pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini saya seperti anak hilang, tidak tau mau kemana dan harus apa. Untungnya saya ada kenalan senior-senior yang menjelaskan banyak hal. Saya pun langsung menuju ISS untuk mengurus administrasi kemahasiswaan dan housing. Saya pun ditempatkan di dorm yang memang saya pilih, tidak jauh dari ISS. Saya pun harus membawa dua koper saya sendirian ke sana dan sempet nyasar (ini emang saya yang ga bisa baca map kayaknya haha). Mungkin awal-awal masih kaget, tapi sebetulnya secara umum cara hidup saya di sini tidak jauh berbeda dengan ketika saya dulu kuliah di Bandung. Perbedaan yang paling signifikan adalah saya jadi berusaha untuk sering memasak dan jadi lebih hemat dalam mengeluarkan uang. Aneh sebetulnya kenapa di sini bisa jadi begitu wkwk, mungkin salah satunya karena pengaruh uang bulanan yang tidak mewah.

Hal lain yang saya rasakan yaitu bagaimana berusaha untuk mengenal orang lain yang berbeda negara, suku, agama, dll. ISS sendiri singkatan dari International Institute of Social Studies, yang mana isinya mahasiswa internasional dari seluruh penjuru dunia. Tahun ini kurang lebih ada 50 negara yang berkuliah di ISS. Bayangkan kami semua dipersatukan di ISS sehingga seolah-olah menjadi seperti "mini United Nation". Menurut saya ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki ISS, dimana orang-orang dari tempat yang berbeda, pengalaman yang berbeda, pendidikan yang berbeda berkumpul menjadi satu, membuat pandangan kita menjadi lebih luas. Belajar di ISS bukan hanya belajar materi dari dosen tetapi juga belajar dari pengalaman teman-teman kita yang mungkin tidak akan pernah kita temui jika berkuliah di tempat lain.

Seminggu awal pengenalan kampus masih cukup menyenangkan dan lumayan untuk jadi ajang beradaptasi dengan kehidupan baru. Tapi setelah perkuliahan dimulai, saya pun kaget dengan budaya "required readings" sebelum masuk kelas. Jadi kita (mahasiswa) harus membaca beberapa bacaan yang diwajibkan dan disarankan sebelum memasuki kelas. Biasanya untuk 1 mata kuliah ada 2-3 bacaan wajib dan beberapa bacaan tambahan yang disarankan. Ini sebuah tantangan luar biasa bagi saya karena: pertama baca tulisan berat bukan hobi saya dan apalagi jika bacaannya dalam bahasa inggris. Kuliah yang diambil ada 3 foundation course (masing-masing 3 sks) dan 1 general course (8 sks). Kuliah setiap hari kira-kira ada 2-3 mata kuliah yang artinya minimal harus baca 4 bacaan, dengan 1 bacaan terdiri dari kurang lebih 20 halaman. Jadi bacaan yang harus dibaca setiap hari kurang lebih ada 80 halaman. Pernah saya beberapa kali mencoba tidak membaca sebelum kelas dan hasilnya saya tidak menangkap materinya dengan baik, alhasil nambah PR buat belajar lagi. Intinya penting buat membaca ini bukan sekedar formalitas sebelum masuk. Tapi sebenernya balik lagi ke diri masing-masing, ga ada yang memaksakan harus membaca kok hehehe

Hal lain yang menurut saya penting untuk disoroti yaitu mengenai "plagiarisme". ISS dan mungkin kultur akademik di Eropa ini sangat menekankan pentingnya orisinalitas dan menghargai hasil karya orang lain. Bahkan di sini memiliki penilaian tersendiri untuk masalah orisinalitas melalui sebuah aplikasi bernama "turn it in". Di sana bisa terlihat berapa persen kita melakukan plagiarisme atas karya orang lain. Mungkin kalau disadari dulu ketika saya kuliah saya banyak melakukan plagiarisme tanpa saya sadari dan memang karena pendidikan tentang hal ini masih kurang di Indonesia.  

Hal terakhir yaitu mengenai exam (alias ujian) yang baru saya alami 2 minggu lalu. Penilaian ujian di ISS untuk foundation course yang saya ambil yaitu: Politics (100% exam), Sociology (100% exam), dan Economy (15% group exam dan 85% individual exam). Bentuk ujiannya kurang lebih sama seperti dulu waktu saya kuliah di ITB untuk ujian tertulis, tetapi lebih menenkankan pemahaman konsep dengan menjelaskan argumen beserta contoh penerapannya. Yang saya rasakan terhadap ujian ini yaitu menguras pemikiran dan tenaga, karena kuliah pengantar yang biasanya 6 bulan sampai 1 tahun lamanya ditekan menjadi 2,5 bulan dengan materi yang kurang lebih sama. Dan ujian melibatkan seluruh materi itu yang intinya jika mau mencoba cara SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak akan berhasil haha

Ya begitulah tantangan yang saya rasakan dalam kurang lebih 2 bulan lamanya. Mungkin kedepannya akan lebih banyak tantangan yang lebih berat dan lebih banyak hal menarik juga yang ditemui. Pokoknya yang penting tetap semangat belajar dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun :)


August 11, 2015

Suara Masyarakat: Potensi Pembangunan Inklusif

Belum lama ini sekitar hampir 900 orang warga belanda mengajukan tuntutan resmi ke pengadilan di Den Haag. Warga Belanda menuntut pemerintahnya sendiri karena dinilai sejauh ini belum berhasil melakukan langkah-langkah yang melindungi masyarakatnya dari kerusakan akibat fenomena perubahan iklim. Berdasarkan aturan The Intergovernental Panel of Climate Change (IPCC), negara-negara berkembang (Belanda termasuk penyumbang emisi per kapita terbesar) harus mengurangi emisi karbon dioksida di level 1990, sementara saat ini emisi berada di level 2010. Pengadilan menetapkan agar pemerintah harus mengambil kebijakan demi mengurangi emisi hingga 25% dalam lima tahun ke depan untuk melindungi warganya dari ancaman bencana akibat perubahan iklim. Dalam implementasinya, pemerintah telah setuju menutup tambang batu bara, menambah jumlah penggunaan kincir angin dan energi matahari serta mengurangi tambang gas bumi di belahan utara Belanda. Keberhasilan warga belanda yang menang di pengadilan ini merupakan kasus pertama di dunia. Semangat warga Belanda untuk memperjuangkan kepentingan publik menjadi salah satu pembelajaran yang sangat berharga bagi seluruh masyarakat di dunia. Kesadaran akan persoalan perubahan iklim dan akibatnya pada keberlangsungan kehidupan merupakan salah satu peran penting masyarakat dalam pembangunan. Apabila masyarakat Belanda tidak menyadari pentingnya pengurangan emisi, maka tidak akan ada tuntutan yang dilakukan kepada pemerintah Belanda. Apabila tuntutan tersebut tidak dilakukan, maka pemerintah Belanda tidak akan mengupayakan untuk mengatasi persoalan perubahan iklim yang dampak buruknya justru nanti akan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Oleh karena itu, perlu kita sadari bahwa masyarakat harus paham dengan kebijakan pembangunan di daerahnya untuk dapat mendukung terjadinya pembangunan inklusif.
Pembanguan inklusif secara umum diartikan sebagai kebalikan dari pembangunan eksklusif di mana pembangunan yang terjadi mementingkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Pembangunan inklusif ini menjadi penting karena realita pembangunan nasional yang masih terasa berat sebelah, salah satu contohnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak sepenuhnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat apabila kita telusuri lebih mendalam. Berdasarkan informasi dari Bank Dunia, dalam rentang tahun 1999 hingga 2012 tingkat kemiskinan di Indonesia telah berkurang separuh dari 24 persen menjadi 12 persen, namun koefisien Gini (pengukuran ketimpangan nasional) naik dari 0,32 pada tahun 1999 menjadi 0,41 pada tahun 2012. Pembangunan yang belum merata ini juga terus berlangsung seiring dengan berlakunya kebijakan desentralisasi (otonomi daerah) di Indonesia sejak tahun 1999 yang membuat setiap daerah mempunyai kewenangan penuh untuk membangun daerahnya sendiri. Arah pembangunan pun yang tadinya menggunakan pendekatan top-down menjadi pendekatan bottom-up. Bottom-up disini berarti pembangunan yang lebih memperhatikan kebutuhan wilayah dari lingkup yang lebih kecil (skala lokal) lalu disesuaikan ke lingkup yang lebih besar (skala nasional). Kebijakan otonomi daerah pada dasarnya dimaksudkan agar pemerintah lebih dekat kepada masyarakat dalam merumuskan kebijakan serta agar pembiayaan kepentingan publik dapat lebih efektif dan efisien. Namun sayangnya kebijakan ini masih dirasa belum maksimal karena paradigma kita yang masih sulit untuk keluar dari bentuk pemerintahan sentralisasi, sehingga pada akhirnya otonomi ini justru memunculkan raja-raja kecil pada tingkat daerah. Masyarakat yang belum begitu paham akan tujuan desentralisasi yang harusnya membawa kesejahteraan bagi mereka pada akhirnya menjadi korban ketidakadilan.
Peran masyarakat dalam pembangunan inklusif
Masyarakat pada dasarnya merupakan salah satu aktor penting dalam pembangunan, dimana masyarakat memiliki hak untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Masyarakat perlu aktif berpartisipasi karena masyarakat seharusnya mengetahui secara pasti kemana arah pembangunan negaranya. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat, arah pembangunan akan menjadi lebih memperhatikan kepentingan publik. Selain itu, partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan juga merupakan proses serta wujud partisipasi politik masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu peran serta masyarakat dalam merumuskan perencanaan daerah yaitu melalui mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Musrenbang merupakan sebuah mekanisme yang menjadi wadah dalam mempertemukan apa yang dibutuhkan masyarakat dan bagaimana Pemerintah merespon kebutuhan masyarakat. Namun, sejauh ini Musrenbang nyatanya seringkali hanya menjadi “ritual” tahunan, atau sekadar kegiatan formalitas yang harus dilakukan pemerintah. Keterlibatan masyarakat masih sangat kurang dan terkadang didominasi wajah yang sama dari tahun ke tahun. Akibatnya, perencanaan program  tidak mendapat gagasan variatif dari pelaksanaan musrenbang tersebut.  Sehingga perlu disadari bahwa tingkat kesadaran hukum dan kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi dalam proses perumusan perencanaan pembangunan akan mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. The Oregon Citizen Involvement Advisory Commitee (CIAC) mendefinisikan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan sebagai berikut:
Citizen involvement means participation in planning by people who are not professional planners or government officials. It is a process through which everyday people help create local comprehensive plans and land use regulations, and use them to answer day-to-day questions about land use. It is citizens participating in the planning and decision-making which affect their community.
Pentingnya partisipasi publik disampaikan pula dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab 1 pasal 1 yang berbunyi, “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar” serta pasal 28C yang berbunyi, “setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara”. Sebagai pihak yang paling terkena akibat dari pembangunan dan pemanfaatan ruang, masyarakat sudah seharusnya terlibat dalam seluruh prosesnya agar tidak terkena berbagai tekanan dan paksaan pembangunan yang telah dilegitimasi oleh birokrasi yang seringkali tidak dipahami. Upaya untuk mendukung pelibatan masyarakat dalam pembangunan salah satunya telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 68 tahun 2010 yang menjabarkan bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang. Masyarakat dapat memberikan masukan dalam proses penyusunan rencana tata ruang, memberikan masukan kebijakan pemanfaatan ruang dan arahan pengendalian pemanfaatan ruang (seperti arahan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi, serta dapat memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Bentuk partisipasi masyarakat dalam penataan ruang tersebut dapat disampaikan secara langsung kepada kepala daerah antara lain melalui forum pertemuan, konsultasi, komunikasi dan kerja sama atau secara tertulis melalui surat, SMS, laman (website), email, dan wadah pengaduan.
Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang sudah mulai mendorong partisipasi aktif warganya dalam pembangunan daerah. Pada Bulan Maret lalu Walikota Bandung, Ridwan Kamil meluncurkan Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan (PIPPK). Program percepatan pembangunan ini dirancang melibatkan langsung partisipasi masyarakat melalui lembaga kemasyarakatan Rukun Warga (RW), Karang Taruna, Tim Penggerak PKK, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Tujuan pelaksanaan PIPPK sendiri yaitu, untuk mewujudkan sinergitas kinerja aparatur kewilayahan dengan lembaga kemasyarakatan kelurahan dalam melaksanakan PIPPK berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Selain itu, Pemerintah Kota Bandung juga mendorong warganya untuk aktif mengawasi penggunaan anggaran serta meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengawasi pembangunan melalui wadah pengaduan online yang tersedia seperti website resmi Pemerintah Kota Bandung ataupun melalui twitter yang dikelola sendiri oleh Walikota. Program peningkatan partisipasi tersebut pun disambut baik oleh warga Bandung, sehingga jadi lebih peduli dengan pembangunan daerahnya. Respon baik melalui partisipasi aktif pun juga ditunjukkan dengan banyaknya warga yang ikut serta dalam kerja bakti yang diadakan Pemerintah serta banyaknya organisasi-organisasi lokal yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung. Meskipun masih terdapat pro dan kontra terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Ridwan Kamil, namun usaha beliau untuk mendorong pembangunan yang menghargai pandangan warganya demi tercapainya kota yang ideal bagi warganya sangat perlu diapresiasi. Upaya tersebut merupakan langkah awal menuju pembangunan inklusif, dimana pentingnya menimbulkan kesadaran akan isu-isu pembangunan dan meningkatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan perencanaan pembangunan serta memantau keberjalanannya.


Untuk kamu yang "galau masa depan"

Pernahkah kamu merasa bingung setelah kuliah mau apa?
Pernahkah kamu merasa hidupmu tidak jelas arahnya mau dibawa kemana?
Pernahkah kamu membandingkan dirimu dengan teman-temanmu yang sukses?
Pernahkah kamu mempertanyakan kemampuan dirimu sendiri?

Kalau iya, selamat berarti kamu berada dalam fase galau masa depan. Kenapa selamat bukannya simpati? Karena dengan galau berarti kamu memikirkan masa depanmu bukan hanya "go with the flow" dengan hidup ini. Galau masa depan pada umumnya dirasakan oleh setiap mahasiswa yang mendekati tingkat akhir, sedang mengerjakan Tugas Akhir/Skripsi, atau yang baru saja lulus a.k.a fresh graduate. Namun terlepas dari galau masa depan merupakan hal yang baik, saya ingin menjelaskan bahwa terdapat banyak orang yang salah "galau". Salah "galau" yang dimaksud yaitu misalnya seperti perasaan dimana hidup ini kosong dan hampa ketika baru saja lulus, waswas ingin segera mendapat pekerjaan yang paling prestis seantero Indonesia bahkan kalau bisa di luar negeri, tidak mau dianggap jelek oleh keluarga atau tetangga atas pekerjaan yang diambil, dsb. Perasaan-perasaan tersebut mungkin sering dirasakan banyak orang, tetapi pada dasarnya merupakan hal yang tidak baik. Orang-orang tersebut pada dasarnya masih belum mempunyai tujuan yang jelas untuk masa depannya. 

Banyak orang yang ketika lulus dan kemudian bekerja mereka tidak puas dengan keadaan dirinya dan akhirnya menyadari bahwa ini bukanlah jalan yang tepat lalu kemudian baru memikirkan langkah berikutnya. Jangan sampai kamu telat menyadari hal tersebut sehingga beberapa tahun hidupmu tidak optimal untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Oleh karena itu pupuklah perasaan galau masa depan selagi masih di bangku perkuliahan, ketika baru saja lulus, atau baru saja mulai bekerja. Wajar kita baru memikirkan masa depan ketika sudah bekerja, karena kita belum terbayang realita kehidupan seperti apa. Namun jangan sampai kamu mengambil langkah yang berbeda 180 derajat dengan tujuanmu (contoh ekstrim misalnya kamu ingin menolong orang banyak tapi ternyata kamu justru menyengsarakan orang banyak).

Untuk membantu kamu mendefinisikan galau masa depan yang saya maksud coba pertanyakan beberapa hal ini ke dalam diri sendiri dan coba jawab. Jika kamu bisa menjawab seluruh pertanyaan dengan baik berarti rencana masa depanmu sudah jelas, namun jika belum silahkan kamu merasa "galau" dengan memikirkan jawaban yang menurutmu sesuai dengan dirimu. Jawaban pada dasarnya tidak ada yang tepat dan mungkin saja jawaban tersebut bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu karena kamu telah menemukan hal-hal baru dalam hidupmu.
1. Apa tujuan hidup saya? Jabarkan alasannya
2. Bagaimana saya bisa mencapai tujuan saya? Sebutkan step-step nya
3. Apa saja pekerjaan yang cocok untuk mencapai tujuan saya? (coba buat beberapa pilihan)
4. Apa saya sekarang sudah berada di jalur yang benar untuk mencapai tujuan? jabarkan alasannya
5. Dalam 5/10/15/20 tahun yang akan datang saya akan jadi apa dan telah melakukan apa?

Banyak-banyak merenunglah, berpikirlah, membacalah, berdiskusilah selagi kamu masih muda dan bersemangat. Bukankah hidup ini ada untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Jadi sebisa mungkin perjelas rencana hidupmu mulai dari sekarang sehingga manfaat yang akan kamu dapatkan menjadi maksimal pada akhirnya.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman saya yang masih bingung akan masa depannya (termasuk saya). Saya yakin kita semua hidup di dunia ini dengan alasan dan misi dari Allah SWT. Coba gali potensi kita dengan baik, insya Allah akan ditunjukkan jalan yang lurus untuk mencapai tujuan-tujuan kita untuk memberikan kebaikan di dunia yang fana :)


Salam Hangat,
Tessa Talitha

August 10, 2015

Langkah-Langkah Menggapai Mimpi Studi di Belanda

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Master/PhD Degree) sudah menjadi salah satu pilihan ketika kita lulus kuliah. Persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan beasiswa penuh pun menjadi tantangan ketika kita memilih untuk melanjutkan kuliah ke Luar Negeri. Semakin banyak lembaga yang menyediakan pendanaan untuk beasiswa, namun semakin banyak pula orang yang berbondong-bondong mendaftar. Mulai dari beasiswa yang berasal dari Indonesia seperti LPDP, DIKTI, Bappenas, Kominfo, dll hingga beasiswa yang berasal dari luar negeri seperti Chevening, Fullbright, Australia Scholarship Awards, World Bank, dll. Untuk sekedar memberikan gambaran, saya akan menceritakan tahap-tahap untuk menggapai studi di Luar Negeri, khususnya yaitu mengenai studi di Belanda.
Belanda merupakan salah satu negara yang paling banyak diminati oleh orang Indonesia untuk melanjutkan kuliah. Letaknya yang berada di European Union dan menawarkan banyak sekali studi dengan bahasa Inggris menjadi hal yang sangat menarik terutama bagi yang mengincar traveling ketika kuliah. Bukan hanya itu, Belanda juga menawarkan banyak program dan universitas yang sangat bagus dengan pendidikan standar internasional. Beberapa universitasnya masuk ke dalam 100 besar universitas terbaik (lihat http://www.topuniversities.com/where-to-study/region/europe/top-universities-europe dan http://cwur.org/2015/netherlands.html) dan Belanda pun memiliki reputasi yang sangat baik terkait dengan risetnya.
Belanda merupakan negara yang paling banyak menawarkan beasiswa. Setiap beasiswa memiliki karakteristik dan syarat yang berbeda-beda tergantung dengan apa yang ingin dicapai oleh lembaga tersebut. Berikut beberapa informasi beasiswa yang dapat digunakan untuk studi di Belanda bagi masyarakat umum (tidak termasuk beasiswa PNS).
1. StuNed
5. LPDP

Studi di Belanda dengan Beasiswa NFP (berdasarkan pengalaman pribadi)
NFP merupakan beasiswa yang berasal dari Nuffic Belanda, yang memiliki misi untuk mengembangkan kapasitas organisasi di NFP countries. Beasiswa ini hanya berlaku untuk lembaga-lembaga yang dianggap tidak mampu untuk membiayai pegawainya untuk berkuliah (misalnya tidak untuk orang yang bekerja di lembaga internasional, lebih detailnya bisa dibaca dalam website). Beasiswa ini juga hanya melalui penilaian dokumen saja jadi pastikan anda mengisi aplikasi anda dengan baik. Persaingan beasiswa ini cukup ketat karena berlaku untuk 51 negara termasuk Indonesia. Namun hal tersebut jangan dijadikan hambatan, karena apabila kita serius untuk mendapatkan beasiswa tersebut pasti ada jalan. Berikut merupakan tahapan penting yang perlu dipahami untuk studi di Belanda melalui beasiswa NFP:
1.    Mempersiapkan persyaratan untuk mendaftar kuliah
Untuk persyaratan sendiri biasanya berbeda-beda untuk setiap universitas dan program yang ditawarkan (bisa dilihat di https://www.studyfinder.nl/ atau di website universitas masing-masing). Walaupun berbeda, tetapi ada beberapa persyaratan yang perlu dipersiapkan untuk master degree.
·          Ijazah dan transkrip nilai yang telah ditranslate
·          Skor bahasa Inggris IELTS (pada umumnya minimal 6 atau 6,5) atau TOEFL iBT (pada umumnya minimum 80 atau 90)
·          Motivation statement
·          Recommendation letter (biasanya 2 buah)
2.    Mendaftar ke universitas pilihan
Untuk periode pendaftaran tidak sama untuk setiap universitas, namun pada umumnya untuk studi di Belanda dibuka sepanjang tahun (untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada website universitas masing-masing). Untuk prosedurnya biasanya kurang lebih sama, hanya mengisi form secara online yang telah disediakan oleh pihak universitas serta meng-upload persyaratan secara online. Setelah mendaftar, yang selanjutnya dilakukan yaitu menunggu konfirmasi oleh pihak universitas apakah anda diterima atau tidak. Biasanya kurang lebih 1 bulan lamanya tergantung universitas tempat anda mendaftar.
3.    Mendaftar beasiswa NFP
Selagi anda mendaftar ke universitas yang anda inginkan, anda bisa mulai mempersiapkan persyaratan untuk mendapatkan beasiswa. Pada umumnya persyaratan utama yang diminta kurang lebih sama dengan mendaftar kuliah, Namun untuk beasiswa NFP memberlakukan syarat dimana anda harus diterima terlebih dahulu di universitas (mendapatkan Letter of Acceptance). Pendaftaran beasiswa NFP biasanya hanya dibuka selama kurang lebih 1 bulan (harus dicek pada website universitas masing-masing karena deadline-nya kadang suka berbeda). Jadi agar persiapan aman, maka anda harus sudah diterima oleh universitas sebelum pendaftaran NFP dibuka (misalnya pendaftaran dibuka bulan april, maka anda sebaiknya maksimal mendaftar ke universitas pilihan anda pada bulan februari sehingga bulan maret sudah ada hasilnya).
Ketentuan beasiswa NFP tahun 2015 berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana persyaratan pengalaman kerja minimal sudah tidak ada (namun bukan berarti tidak penting). Yang penting untuk dipersiapkan dalam mendaftar  beasiswa NFP yaitu:
-          Employer statement
Employer statement merupakan syarat penting yang perlu diperhatikan karena beasiswa ini mengincar pengembangan organisasi. Sehingga statement dari organisasi tempat kita bernaung sangat penting untuk dapat meyakinkan pihak pemberi beasiswa. Usahakan agar tujuan anda untuk kuliah dapat memberikan kontribusi nyata pada organisasi anda.
-          Motivation
Motivation ini bukan berbentuk surat pada umumnya tetapi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pihak pemberi beasiswa NFP. Pertanyaannya yaitu
1. What is the issue or problem you want to address in your country? 
2. How will this course enable you to address this issue?
3. How will you address this issue with your position within your organisation?
Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan program yang kalian akan ambil di universitas pilihan anda karena universitas juga akan menilai form anda. Proses penilaian beasiswa ini terbagi menjadi dua tahapan besar yaitu penilaian oleh pihak universitas dan penilaian oleh kementrian luar negeri belanda. Untuk lebih lengkapnya mengenai prosedur dapat dibaca di sini dan mengenai penilaian dapat dibaca di sini.
4.    Menunggu hasil dengan terus berdoa
Setelah seluruh proses pendaftaran selesai, hal yang kemudian dilakukan hanyalah menunggu kurang lebih 1-2 bulan lamanya dari deadline pendaftaran beasiswa NFP. Perlu diingat bahwa pengumuman hasil akan diinformasikan oleh pihak universitas masing-masing dan tidak serentak. Jadi anda tidak perlu panik ketika ada teman yang berbeda universitas dengan anda mendapat informasi lebih dulu dibanding anda. Namun pemberian informasi ini hanya untuk yang diterima saja, jadi ketika sudah hampir 3 bulan anda belum juga mendapatkan kabar, maka anda mungkin tidak diterima. Namun kembali lagi ke penjelasan awal bahwa sangat banyak beasiswa yang ditawarkan untuk studi di Belanda, cobalah mendaftar yang sesuai dengan kriteria anda dan persiapkan dengan baik. Kalau anda terus berusaha pasti akan ada jalan di kemudian hari.

Selamat berjuang untuk mengejar studi di Belanda!


Tessa Talitha
ISS, Erasmus University Rotterdam (2015-2016)


August 1, 2015

Pembangunan Kota Berkelanjutan dan Aktor-Aktor yang Terlibat di Dalamnya

Tulisan ini merupakan tulisan pada tahun 2013 yang termasuk dalam The Planners HMP PL ITB. Mungkin masih banyak kekurangan karena saya saat itu masih di bangku kuliah, tetapi saya ingin share apa yang dulu pernah saya buat karena mungkin dapat menjadi inputan di kemudian hari.


Pembangunan Kota Berkelanjutan dan Aktor-Aktor yang Terlibat di Dalamnya
Oleh:
Tessa Talitha (15410072)
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
Institut Teknologi Bandung

Pembangunan kota yang berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Keseimbangan ketiga aspek tersebut diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pembangunan kota diperlukan perhatian khusus tidak hanya dari sisi perencanaan fisik kota namun juga dari sisi pengelolaan pembangunan untuk dapat mencapai tujuan kota yang berkelanjutan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam pengelolaan suatu daerah diperlukan pihak-pihak yang merencanakan kota agar tetap pada jalur dalam mencapai tujuan pembangunan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu bentuk kelembagaan dan lembaga formal yang mengatur penyelengaraan pembangunan kota berkelanjutan untuk menjamin terpenuhinya standar tingkat pelayanan publik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terdapat beberapa definisi mengenai kelembagaan dan apa yang membedakannya dengan lembaga atau organisasi yang dijabarkan oleh (Oetomo,2008) dalam buku Metropolitan di Indonesia, Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang Bab 7 Hukum dan Kelembagaan sebagai berikut:
·         The humanly devised constraints that shape human interaction... They structure incentives in human exchange, whether poitical, social or economic... Institutions reduce uncertainty by providing a structure to everyday life... Institutions include any formof constraint that human beings devise to shape interactions” (Bainbridge, et.al, 2000:6)
·         Institutions are the constraints that human beings impose on human interaction. They consist of formal rules (constitutions, statute law, comon law, and regulations) and informal constraints (conventions, norms, and self-enforced codes of conduct) and their enforcement characteristic” (North, 1998:11)
·         “Wherever we encounter substantial, continued, organized activity with means structures to pursue shared goals, we deal with behavior that at some stage of consequence can be  called institutions.” (Hurst, 1977:48)
Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian kelembagaan yaitu  suatu unsur formal beserta “rule of the game” atau seperangkat aturan yang ada di dalamnya yang dapat mempengaruhi pengelolaan sumber daya dalam mencapai tujuan tertentu. Konsepsi kelembagaan tersebut beserta faktor-faktor penentunya dapat  dilihat pada gambar 1. Gambar tersebut secara tidak langsung menjelaskan bahwa kelembagaan bersifat dinamis, bergantung pada berbagai aspek di lingkungannya secara spesifik. Kompleksitas dan kerumitan sistem kelembagaan yang dibentuk akan ditentukan oleh kondisi dan situasi lingkungan manusia, situasi lingkungan alam dan kondisi ketersediaan sumber daya yang terdapat di daerah tersebut (Oetomo dalam Metropolitan di Indonesia, Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang Bab 7 Hukum dan Kelembagaan, 2008). Oleh karena itu, dalam membangun kota yang berkelanjutan kita perlu mengetahui karakteristik kota tersebut beserta sistem kelembagaan yang ada di dalamnya.

Gambar 1. Lingkup Kelembagaan

Apabila dilihat dari kacamata sosial, pengembangan perkotaan tentunya harus dapat meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat. Persoalan kemiskinan merupakan permasalahan kompleks yang selalu ditemui pada kawasan perkotaan dan hingga saat ini belum dapat terselesaikan. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan perencanaan tata ruang secara fisik saja namun diperlukan perencanaan aspek non-fisik seperti kebijakan, politik, budaya, norma, dan sebagainya yang berpengaruh terhadap kualitas kehidupan masyarakat. Pada dasarnya, terdapat tiga aktor yang memilki peran dalam pembangunan kota keberlanjutan berdasarkan konsep Good Governance atau tata pemerintahan yang baik yaitu pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat. Pemerintah memliki fungsi sebagai pengatur sistem kelembagaan serta sebagai pengambil keputusan. Pihak swasta memiliki peran untuk meningkatkan kualitas perekonomian daerah sesuai dengan aturan yang berlaku. Sedangkan masyarakat sebagai obyek yang terlibat dalam pelaksanaan pemerintahan khususnya yang berkaitan dengan pelayanan publik. Para aktor tersebut harus memiliki hubungan yang saling mendukung untuk dapat mencapai pembangunan berkelanjutan.
Dalam mencapai pembangunan kota yang berkelanjutan diperlukan kesadaran para aktor terkait dengan perannya masing-masing sehingga dapat saling mendukung secara sinergis dalam melakukan pembangunan. Sehingga, diperlukan suatu mekanisme yang tepat untuk dapat melibatkan seluruh pihak dalam seluruh proses pembangunan kota, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan pembangunan. Partisipasi para aktor diperlukan karena pada dasarnya pemerintah atau sekelempok orang dengan keahlian tertentu memiliki keterbatasan dalam membuat suatu perencanaan pembangunan. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang paling mengetahui keadaan suatu kota adalah orang-orang yang tinggal di daerah tersebut, sehingga masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam proses perencanaan pembangunan agar tepat sasaran dalam menjawab persoalan yang ada. Pemerintah pun memiliki keterbatasan dalam hal pembiayaan sehingga diperlukan bantuan pihak swasta dalam mendukung pembangunan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan bergantung kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya dan bagaimana “rule of the game” atau seperangkat aturan yang ada diterapkan dalam melakukan pembangunan.

Referensi:
Ditjen Penataan Ruang. 2008. Metropolitan di Indonesia: Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang, Bab 7: Hukum dan Kelembagaan. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Hardjasoemantri, Koesnadi. 2003. Good Governance Dalam Pembangunan Berkelanjutan Di Indonesia. Makalah Untuk Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional ke VIII di Bali, tanggal 15 Juli 2003.
Widiantono, Doni.J. Kota Berkelanjutan: Membangun Kota Tanpa Luka. 2008. Bulletin Penataan Ruang Edisi Mei-Juni.

June 4, 2015

Dedicated to HMP Melesat

"Some Friends Come Into Your Life For A Reason Others Come Only For A Season"
-Robby Ray (Hannah Montana)- 

Masa perkuliahan di ITB tidak terlepas dari organisasi kemahasiswaan (atau biasa disebut Himpunan Mahasiswa). Dalam masa perkuliahan yang saya alami, masa saya menjadi Badan Pengurus himpunan merupakan satu titik yang membuat saya berubah drastis, baik secara pemikiran maupun secara sifat. Masa-masa itu indah untuk dikenang, namun sulit menyatakan ya ketika ditanya apakah mau mengulang kembali masa itu hahaha. 

Himpunan Mahasiswa Planologi Pangripta Loka ITB (biasa disebut HMP), pada masa itu dikepalai oleh Andika Eka Satria (15410082) memiliki tag line HMP Melesat (memaksimalkan seluruh elemen untuk aktualisasi). Badan Pengurus (BP) Melesat berjumlah 29 orang (24 orang angkatan 2010 dan 5 orang angkatan 2011) dengan berbeda-beda karakter. Ketika pertama kali bertemu, kami mungkin tidak saling mengenal satu sama lain sepenuhnya, bahkan ada yang baru berkenalan saat kumpul perdana. Pada awalnya kami mungkin tidak menyangka kalau menjadi BP bukanlah sesuatu hal yang sulit, tetapi seiring berjalannya waktu kami bertemu dengan hambatan serta kendala yang menghadang perjalanan kami.

Awal perjalanan kami dimulai dengan Rapat Anggota program kerja yang berlarut-larut hampir 2 bulan lamanya untuk menyelesaikan prosesnya. Kesulitan untuk meyakinkan warga hadir dalam rapat anggota menyebabkan kuorum sulit untuk tercapai, tetapi pada akhirnya Rapat Anggota pun berhasil diselesaikan pada bulan Mei. Setelah itu kami langsung dihadapkan dengan liburan dan juga Kerja Praktek, tapi semangat kami masih ada dengan melakukan kumpul Badan Pengurus setiap 2 minggu sekali di Bandung untuk membahas kondisi HMP dan progress program kerja. Walaupun terkadang kami sendiri yang suka ngaret yang akhirnya menyebabkan kumpul mundur, dan juga kumpul tidak bisa full kuorum karena terkendala yang Kerja Praktek di luar Jakarta-Bandung tidak dapat hadir. Tapi banyaknya acara yang dilakukan di saat liburan tidak banyak dihadiri oleh warganya, itu pun menjadi isu penting kami di kala itu. Internalisasi yang harusnya menjadi capaian pada fase awal kepengurusan menjadi tidak dapat tercapai dengan baik sesuai rencana,

Kemudian waktu masuk kuliah pada bulan Agustus langsung dimanfaatkan dengan mengadakan berbagai kegiatan. Banyaknya kegiatan tidak berbanding lurus dengan partisipasi anggotanya, hal itu pun menjadi persoalan yang menghantui kepengurusan BP Melesat. Agustus-November merupakan masa terpadat program kerja BP Melesat, karena di situlah warganya diharapkan bisa banyak berpartisipasi. MPAB (kaderisasi HMP) juga menjadi perhatian di kala itu yang memelukan banyak sumber daya anggota. Masalah besar pun muncul lagi dimana ketika pelantikan digagalkan akibat performa anggota muda yang dirasa belum layak, disamping itu terjadi ketidakharmonisan dalam kepanitiaan MPAB itu sendiri. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan yang kemudian kami menyelesaikannya dengan membentuk Panitia Khusus untuk melanjutkan kaderisasi. Kejadian ini juga menimbulkan dampak pada program kerja lainnya menjadi mundur, sehingga harus diatur sedemikian rupa agar bisa sesuai dengan rencana di awal.

Setelah ada anggota baru yang masuk, kami melanjutkan kegiatan di HMP dengan berbagai program kerja peningkatan kapasitas dengan tujuan untuk mengaktualisasikan diri. Kegiatan pelatihan kepemimpinan, kajian, riset, pengabdian masyarakat dan sebagainya pun dilakukan pada masa itu. Acara-acara internalisasi pun dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan antar angkatan, terutama angkatan yang akan mengurus selanjutnya. Namun lagi-lagi terkendala oleh partisipasi warganya yang tidak tinggi. Kemudian kepengurusan kami pun ditutup dengan aktualisasi satu HMP melalui acara "Bandung City Forum" yang mengundang beberapa pakar untuk berdiskusi mengenai persoalan di Kota Bandung serta menjadi sarana kami untuk menunjukkan karya-karya kami (riset HMP dan publikasi tulisan Jurnal The Planners), serta karya-karya mahasiswa di perkuliahan seperti Maket Kawasan Fungsional dan tugas paper perkuliahan.

Dari luar mungkin kami sebagai BP tidak terlihat ada masalah, tetapi sebetulnya banyak sekali masalah yang dihadapi baik itu masalah internal (salah paham, sakit hati, benci, dll) maupun eksternal yang tidak terprediksi. Mungkin jika kami tidak peduli satu sama lain, akhir dari kepengurusan kami akan menjadi hal yang melegakan, selayaknya terlepas dari beban. Namun, akhir dari kepengurusan kami menjadi satu hal yang menyedihkan, dimana kami sudah tidak bisa saling menyemangati satu sama lain, bercanda bareng, rebut-rebutan jadwal untuk proker, bete-betean, nangis bareng, dan lain-lain. Karena pada dasarnya BP itu adalah kesatuan (mirip Power Rangers, mereka secara individu punya warna yang beda-beda tapi jika bersatu akan menjadi robot raksasa yang sangat kuat *maaf analogi yang jelek mungkin ya haha*)

Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan kalian, bisa mengenal kalian, dan bisa kerja kurang lebih setahun lamanya bersama kalian. Mungkin akan banyak waktu dimana saya akan mengingat masa-masa BP ketika saya dilanda masalah nantinya, karena saya belajar banyak dari kalian. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam cerita hidup saya ya teman-teman sekalian.


This is not the end guys! There are many things that we should achieve, individually and also together. Probably next time we will meet again in the future as a team (hopefully in the greater environment). See you again BP HMP Melesat :D


February 26, 2014

Rational Comprehensive

Jika kita berbicara mengenai Perencana atau Planner, maka hal yang akan sangat berkaitan yaitu pola pikir "rational comprehensive".Apa yang dimaksud dengan pola pikir rational comprehensive?

Dalam mata kuliah Teori Perencanaan disebutkan bahwa "Pola pikir rational comprehensive merupakan ciri dari seorang planner, yaitu bagaimana seorang planner dapat menjelaskan secara rasional kepada disiplin ilmu yang lain mengenai perencanaan secara menyeluruh". Dengan kata lain pola pikir ini merupakan bagaimana planner dapat menjelaskan suatu rencana kepada orang lain secara menyeluruh sehingga dapat diimplementasikan dengan baik.

Berkaitan dengan hal tersebut, selama saya menjalani kegiatan baik pada saat perkuliahan maupun saat di himpunan saya selalu dihadapkan dengan bagaimana menggunakan pola pikir rational comprehensive. Salah satu mata kuliah yang sangat membutuhkan penggunaan pola pikir tersebut adalah Studio. Studio dalam jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota ITB yang telah saya jalani terbagi menjadi Studio Proses, Studio Perencanaan Tapak, Studio Perencanaan Kota, dan Studio Perencanaan Wilayah. Studio merupakan mata kuliah dimana kita diberikan tugas untuk membuat suatu rencana pada kawasan tertentu hingga Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota. Dalam tahapan penyusunan rencana kita harus melakukan identifikasi persoalan, merumuskan tujuan dan sasaran, melakukan survey, serta melakukan analisis. Untuk menyusun suatu rencana diperlukan pemahaman secara menyeluruh sehingga kita dapat merencanakan sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut. Apabila dalam proses perencanaan kita melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi persoalan, maka pada dasarnya rencana yang kita susun dapat dibilang tidak akan menjawab persoalan yang terjadi. Hal ini merupakan indikasi terjadinya Error tipe 3, dimana hipotesis yang diberikan salah sehingga tidak dapat menyelesaikan persoalan.

Ketika saya berkegiatan di himpunan mungkin tidak secara jelas menerapkan apa yang dikatakan dalam teori yang dijelaskan sebelumnya, namun dalam berkegiatan di himpunan saya terbiasa menggunakan pola pikir rasional menyeluruh. Pada dasarnya berkegiatan di himpunan terbagi menjadi kepanitiaan dan divisi yang menjalankan program kerja tertentu. Ketika kita berkegiatan sebagai panitia suatu program kerja misalnya Syukuran Wisuda yang setiap tahunnya diadakan pada bulan April, Juli, dan Oktober diharuskan untuk menjelaskan konsep acara kepada seluruh anggota dalam forum (baik hearing maupun sosialisasi acara). Hal ini merupakan proses dimana panitia merasionalkan apa yang ada dalam pikirannya terhadap acara yang akan dibawa kepada para anggota yang nantinya akan menjalankan acara tersebut. Dalam proses ini digunakan pola pikir rasional menyeluruh agar perencanaan terhadap suatu acara dapat dimengerti oleh orang-orang yang nantinya akan menjalankan hal tersebut. Salah satu hal besar lainnya yang menuntut pola pikir rasional menyeluruh adalah saat berjalannya Rapat Anggota yang diadakan saat menyusun Proker Kepengurusan maupun saat memberikan Laporan Pertanggung Jawaban Kepengurusan. Rapat Anggota wajib dihadiri oleh seluruh anggota dan merupakan kekuatan pengambil keputusan tertinggi di himpunan. Dalam proses Rapat Anggota diperlukan suatu penjelasan yang rasional dan menyeluruh sehingga apa yang dibahas dapat dimengerti dan diterima oleh seluruh anggota.

Apabila kita semua sadari, pola pikir rasional dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan hanya dalam perencanaan wilayah dan kota namun dalam hal-hal lainnya. Misalnya bagaimana kita menjelaskan kepada keluarga mengenai mimpi dan tujuan yang kita inginkan sehingga dapat direstui atau bagaimana kita menjelasakan mengenai rencana liburan kepada teman-teman. Yang terpenting dalam konsep pola pikir rasional adalah bagaimana kita dapat meyakinkan orang lain atas apa yang kita ingin lakukan, just simple as that.